Jumat, 08 April 2016

[ Cerpen ] Bintang Gamma ( Bag 2 )

31


Bagian 1


"Masa kamu gabisa pulang si Gam, kamu keterlaluan ya, besok pagi temen main kamu dari kecil mau menikah, masa enggak dateng. Kamu lebih mentingin kerjaanmu ketimbang sepupu kamu sendiri?" kata Mama lewat telpon.

"Maaf mah, tapi beneran aku enggak bisa pulang, apalagi besok pagi tau-tau nyampe Surabaya. Tiket penerbangan Colorado - Indonesia enggak gampang Mah, belom transit-transitnya. Kecuali aku punya om jin yang tinggal kedip bisa sampe Surabaya." jelasku tak mau kalah.

"Kamu ini alesan aja, padahal mamah kan udah kasih tau kamu dari sebulan yanglalu, kalo Vega besok mau menikah, harusnya kamu udah siapin dari kapan tau dong." serang Mama

"Iya iya mah maaf, aku juga gak tau tiba-tiba ada kerjaan tambahan mendadak disini." Kilahku.

"Terserah kamu deh."

Mamah menutup telpon tanpa memberi aba-aba sebelumnya.

15 tahun berjalan begitu cepat, sekarang aku bekerja sebagai fotografer profesional, kebetulan sejak tiga minggu yang lalu aku ada kerjaan di Colorado Amerika Serikat. Sejujurnya pekerjaan ku sudah selesai sejak seminggu yang lalu. Tapi aku sengaja tidak langsung pulang, karena besok pagi cinta pertama sekaligus orang yang kucintai sampai saat ini akan melangsungkan akad nikah dengan sahabatnya saat SMP. Kata-kataku dulu soal aku sudah siap patah hati sejak awal aku jatuh cinta padanya adalah bohong. Nyatanya sampai saat ini aku masih sering merasakan patah pada sebagian hatiku saat mengingat bahwa wanita yang kucintai sejak dulu akan menikah dengan laki-laki lain.

Sejak aku menyatakan perasaanku kepada Vega malam itu, komunikasiku dengan Vega benar-benar seadanya. Vega mulai jarang hadir dalam acara keluarga, alasannya karena disibukkan oleh profesinya sebagai desainer yang karyanya selalu jadi panutan pecinta fashion Indonesia. Vega juga jarang sekali membalas pesan singkat dariku, bahkan bisa dihitung dengan jari setelah 15 tahun lamannya.

Aku menyeruput kopiku yang mulai dingin, tiba-tiba desing lembut tanda panggilan masuk dari handphoneku berbunyi.

"Iya halo Mah?"

"Gamma, kamu masih tetep yakin gabisa pulang juga ke Indonesia?"

"Ya Allah, yakinlah Mah, masa iya Gamma boong sih."

"Kamu yakin kamu gak bisa pulang karna masih ada kerjaan di sana?"

"Iya mah beneran."

"Bukan karna kamu belum siap patah hati kan?"

Pertanyaan dari Mamah via telpon tiba-tiba membuat aku tersengat, darimana dia tahu perihal perasaanku kepada Vega? apakah Vega yang memberitahu? tapi gak mungkin, Vega memang bawel tapi perihal sensitif seperti ini Vega tidak akan pernah sembarangan memberi tahu orang. Orangtuanya sekalipun.

"Ma..Maksud Mama?" tanyaku gugup.

"Gamma, kamu itu anak Mama, Mama tau semuanya tentang kamu, sepinter -pinternya kamu ngumpetin sesuatu Mama pasti tau, Mama sudah tau kamu suka sama Vega jauh sebelum kamu sendiri menyadari ada perasaan yang tumbuh dihatimu. Mamah paham sinar bahagia dimatamu saat akan melihat bintang bersama Vega. Mamah tau semuanya Gam. Sayangnya kamu tidak pernah mau memperjuangkan perasaan itu Gam. Kamu bahkan tidak pernah berani menanyakan kepada Vega, apakah Vega juga punya perasaan yang sama? Kamu takut kalo perasaan Vega sebaliknya sekaligus kamu tetap berharap pada waktu yang bersamaan."

Terdengar helaan nafas berat Mama dari seberang sana."Oke mamah gak masalah kamu enggak bisa pulang, mama cuma gak enak sama tante kamu, kalian temen main juga dari kecil. mamah harap kamu bisa sampaikan permintaan maafmu karena gak bisa datang , sendiri ke Vega. Mama sayang kamu Gamma."

Mama menutup telpon, Aku merapatkan selimutku. Aku benar-benar kehabisan kata-kata setelah mendengar apa yang Mama katakan tadi lewat telpon. Apa kata Mama benar. Aku masih tetap berharap Vega punya perasaan yang sama dengan ku sampai detik ini, tapi aku tidak berani menanyakan nya kepada Vega. Aku takut bila ternyata Vega tidak memiliki perasaan sama sepertiku. Lalu kenapa aku harus takut bila Vega tidak punya perasaan yang sama denganku? bukankah tidak berpengaruh apa-apa? bukankah memang dari awal aku yang enggan memperjuangkan perasaan ini?.

Bila seandainya Vega punya perasaan yang sama denganku, kenapa dia tidak pernah mengatakannya? 15 tahun sudah lewat, dan Vega tidak pernah membicarakan apapun denganku, ditambah kabar dia akan menikah dengan laki-laki lain. Sudah terang bukan masalah ini? Aku selama ini hidup dengan harapan-harapan  yang aku buat sendiri. Perasaan yang menggerogoti hati aku pelihara sendiri.

Malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur. Apa yang mama katakan tadi berputar-putar di seluruh penjuru otakku. Berkali-kali kucoba untuk memejamkan mata tapi gagal. Akhirnya aku beralih mencoba mengetikkan pesan pemintaan maaf kepada Vega karna tidak bisa hadir, karna tentu saja aku tidak berani menelfonnya secara langsung. Berkali-kali aku merangkai kalimat berkali-kali pula aku menghapusnya.

Aku menyerah, aku menyeruput gelas kopi ke 5 ku malam ini, kepalaku dipenuh pikiran bahwa 24 jam lagi, jauh di Surabaya sana, orang yang aku cintai akan menikah dengan laki-laki lain.

Sekarang masih jam 3 dini hari di Colorado, bintang-bintang terlihat begitu indah dari tempatku menginap yang tak terlalu jauh dari pegunungan Rocky. Dulu saat usiaku dan Vega masih 9 tahun lebih 1 hari untukku dan tepat 9 tahun untuk Vega. Vega pernah membisikkan bahwa dia ingin sekali melihat bintang dari pegunungan Rocky, karna pasti indah sekali bintang-gemintang dilihat dari sana, dulu aku hanya bisa menggelengkan kepala dan bersikeras bahwa melihat bintang paling indah hanya di atap rumah nenek kami.

Kopi gelas ke 5 ku habis, handphone ku berdesing lembut kembali, saat ku lihat ternyata bukan telepon dari Mama, tapi pemberitahuan bahwa ada e-mail masuk. Rekan kerja macam apa ini mengirim e-mail pukul 3 dini hari.

Namun dugaanku salah, jantungku sempat lupa caranya berdetak sejenak saat aku membaca siapa pengirim e-mail pukul 3 dini hari tersebut.




-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

From : Vegaalmaak@galaxy.com
To  : Gammandromeda@stars.com

Hai Gamma,
Maaf mengganggu waktumu, kamu pasti sibuk sekali sampai tak bisa hadir di acara pernikahanku besok pagi. Aku memakluminya. Kudengar dari Mamah mu kau sedang ada tugas di Colorado. Wah pasti keren bisa melihat gugusan bintang dari sana ya.

Baiklah cukup untuk basa-basinya.

Aku akan mengakui sesuatu padamu Gamma.
15 tahun sudah lewat sejak pertama kalinya kamu mengakui perasaanmu kepadaku. Seandainya saat itu kamu memutuskan untuk memperjuangkan perasaan itu, mungkin besok adalah hari dimana kamu membacakan ijab qabul dihadapan Ayahku, Ayahmu dan Penghulu.
Sayangnya kamu menyerah sebelum kamu memulai memperjuangkannya. Kamu sudah yakin sekali kita akan terus menerus begini, perasaan itu hanya sekedar perasaan sampai kapanpun. Sehingga membuatku urung mengungkapkan hal yang sama malam itu, karna pada akhirnya pasti percuma.

Sama sepertimu Gamma,
Aku juga entah kapan pertama kali merasakan perasaan yang menurutku rumit kepadamu. Mungkin saat kamu memberikan tangan kananmu sebagai bantalan saat kita melihat bintang di atap rumah nenek dulu, tempat yang menurutmu paling indah untuk melihat bintang. Atau saat kamu bersusah payah menggendongku turun dari atap saat aku tertidur waktu melihat bintang.

Aku juga mencintaimu Gamma, betapa inginnya aku memperjuangkan perasaan ini bersamamu. Sayangnya kamu justru sebaliknya. Aku mencintaimu Gamma, bahkan sampai H-1 hari pernikahanku ini, tapi aku juga mencintai Candra calon suamiku. Keluargaku juga mencintainya. Aku mencintai keberanian dia untuk serius denganku, aku mencintai cara dia mati-matian memperjuangkan perasaannya sejak SMP dulu.

Gamma seandainya aku diminta berhitung perihal perasaanku padamu dan perasaanku pada Candra, maka perasaanku padamu lah yang jadi pemenangnya. Tapi aku akan terus menerus belajar untuk lebih mencintai Candra.

Tapi Gamma, bukankah perasaan kita hanyalah sekedar perasaan sampai kapanpun? Kita hanyalah sekedar kawan melihat bintang yang kebetulan bersaudara kapanpun dan dimanapun? Perasaanku dengan Candra kini menemukan anak tangga selanjutnya, perasaanku dengan Candra akan menjadi penyempurna separuh agama kami.

Perasaan kita hanyalah sekedar perasaan Gamma, selamanya.

Aku mencintaimu Gamma.
Aku juga mencintai Candra.




Bintangmu,

    Vega

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada sebagian hati Gamma yang tadinya patah, merasa seperti menemukan bagiannya kembali.
Gamma tidak pernah berpikir semua akan jadi seperti ini, yang Gamma tau saat itu juga jemarinya seakan bergerak sendiri mengetikkan kalimat-kaimat balasan untuk e-mail pukul 3 dini hari tersebut.




-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

To : Vegaalmaak@galaxy.com
Subject :


Vega, aku tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini sebelumnya. Aku segera kembali Vega, aku akan memperjuangkan perasaan kita, kamu masih mau memperjuangkannya bersamaku bukan?




------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gamma bergegas menelfon pihak yang mengontrak dia selama ada di Colorado untuk dapat menguruskan penerbangannya ke Indonesia sesegera mungkin, sembari bergegas membereskan barang-barang yang dianggapnya penting dan akan ia bawa. Sejenak pandangan Gamma tertumpu pada jendela lebar yang ada di kamar tempat dia menginap. Vega benar, gugusan bintang benar-benar indah dilihat dari sini, jauh lebih indah dari bintang yang ia lihat dari atap rumah neneknya, sinarnya masih tetap jujur, jumlahnya jauh lebih banyak. Gamma tersenyum mengingat kata-kata Vega.

Desing lembut kembali terdengar dari handphone Gamma, dia bergegas mengambil dan mengeceknya. Benar, e-mail balasan dari Vega.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------


From : Vegaalmaak@galaxy.com
To  : Gammandromeda@stars.com


:)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

-Tamat-






Terimakasih untuk kawan seperblogan yang sudah memberikan kritik dan saran pada Cerpen Bintang Gamma bagian 1 sebelumnya, kalo bisa sih yang ini juga yaa. :D 

Sangat butuh kritik saran demi kemaslahatan seluruh umat beragama, maklum baru pertama kali bikin cerpen. :D

31 komentar:

  1. Ada yang typo tuh, "anutan" entah ini maksudnya mau jadi "panutan" kali ya

    Wah jadi bingung nih, maksud Gamma pulang ke Indonesia untuk memperjuangkannya itu apa? si Gamma tiba-tiba dateng ke acara ijab qabul terus teriak "hentikan" gitu kek di sinetron apa gimana? Harus ada lanjutannya lagi nih.

    Tapi aku suka sih sama cerbungnya, gak melulu harus happy ending si tokoh bisa menikah dengan tokoh yang dicintainya gitu. Eh, kalo masih sepupu gitu emang boleh menikah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya, thankis atas koreksinya. :D

      Nah itu silahkan menebak-nebak sendiri ya ananda Rizki. :D
      Gantung ending boleh lah yaa sekali-kali. :D

      boleh, karna bukan mahram.

      Hapus
  2. Sayang banget neng abang g punya kripik
    Jadi ga bisa ngasih kripik buat neng
    .
    Yah udahan y
    Jadi gtw dong si gamma keburu apa engga diakad nikahannya si vega
    Ngomong2 siapa neng nama penghulu yg hadir diacara pernikahannya si vega?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ada yang minta kripik Ya Allah bang Nik. :')
      Kritik bukan kripik.


      MasyaAllah mana syaa kepikiran nama penghulunya si?

      Hapus
  3. Ih aku nggak terima ada tulisan 'tamat' di endinya. :( Lanjutin lagi Dibaaaahh.
    Aku penasaran kelanjutannya. Apa Gamma akhirnya beneran sampai di Indonesia? Trus waktu penghulunya bertanya, sah? Trus Gamma yg dari bandara langsung teriak, '' TIDAAAKK ''

    HAHAHAAA. Yawlaaa aku korban sinetron :(

    Lanjutin bagian 3 nya dong, Dib.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih tapi aku udah mentok lan. udah ga ada lanjutannya lagi. gimana dong? ;(

      Kamu kebanyakan nonton sinetron indosiar lan. :'')
      Ih kan udah ada tulisan tamat nya. gimana si? :(

      Hapus
  4. Yang ini boleh tamat, tapi harus bikin lagi. Harus pokoknya. Nggak mau tau.

    Endingnya antara tragis dan bahagia, menurut gue. Tragis buat Gamma, bahagia buat Vega. Ya udahlah, intinya sering-sering bikin cerpen yak. Biar makin rame hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah. :(
      tapi udahmentok bi, ceritanya memang harus selesai disini.

      Eheheh bebas deh mau mendeskripsikan nya gimana.
      iya-iya ini pemanasan dong, pertama kali bikin cerpen euy.

      Hapus
  5. bagus juga cerpenya, tapi kenapa ada kalimat tamat. gak ada lanjutanya po dib?
    bikin penasaran endingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah terimakasih. ;D
      Iya sudah tamat ya gak ada lanjutannya lah. :')

      Hapus
  6. Colorado aja gue gak tahu, Dib. Gue baru tahu di sini. Emang, ya, nilai Geografi gue dulu pas-pasan. :(
    Anjir! Balesan senyum doang. Taik. Cewek emang sama. Emot senyumnya itu sering menyeramkan. :')

    Pffft. Kalo boleh kritik, itu loncat waktunya langsung jauh, ya. Ehehe. Padahal gue berharap bakal panjang ini, Dib. Menurut gue, terlalu kecepetan. Jadi gregetnya kurang. Ya udah, yang penting jangan kapok bikin cerpen yaaak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Geografimu itu lhooo..
      Emang ya, dibales emot :) tuh ngeri, gajelas gitu maksudnya gimana? sama kaya mau main futsal terus dibales "have fun ya :)" ih ngeri.

      Ehehe iya, soalnya kalo kepanjangan ntar gajadi cerpen dong. :D
      Terimakasih buat kritik dan saran nya bang :D

      Hapus
  7. Dibah, yang bagian kedua ini lebih rapi dari yang pertama, dan lebih bisa bikin gua senyum-senyum sendiri bacanya (padahal mah gua belom pernah ngalamin kayak cerita di atas, apalagi sampe Colorado segala haha).

    Mungkin karena penggunaan sudut pandang pertama, jadi si Gamma ini bebas lo eksplor jalan pemikirannya. Bagus Dib, endingnya bikin pembaca berimajinasi sendiri kayak gimana tuh perjuangan cintanya si Gamma ke Vega setelah dapet balesan email dengan sebuah emoticon simple (kali ini gua memilih opini anti mainstream). Cukup ":)" untuk ngasih sensasi itu ke pembaca. Misterius sekaligus "menyeramkan", kalo kata Yoga haha :D

    Kalo lo mau ngelanjutin cerpen ini pun oke-oke aja, toh semua balik ke keputusan pengarangnya sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehe terimakasih :D
      Iya emang Vega bawel-bawel misterius. :D

      No no, cerpen ini sudah berakhir disini. :D

      Hapus
  8. Ya Ampun masak gue harus googling dulu mencari dimana Negara Colorado itu. Etdah
    Ya gitulah resiko cowok yang gak berani ngungkapin perasaan ke cewek yang ditaksirnya. pasti kalah sama cowok lain yang punya keberanian. :(

    Aku bingung mau ngasih kritik dan saran apaan, belum terlalu jago sih kalo bikin cerpen. Ehh saranku sih, bikin lagi dib, kirim ke lomba !! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapalah bang. :D
      tambah ilmu pengetahuan. :p

      hhmm, iya ya, makannya kalo suka tuh diseriusin. gitu.

      Iyahaha, belom beranilah gewla kalo buat ikut lombacerpen, ini aja baru pertama kali bikin. :D

      Hapus
  9. Bangke. Di bagian kedua lebih mantap.

    Tapi gue merasa di gantung dengan balasan, Vega. Ini maksudnya apa? Mau diperjuangin atau gimana? Kalo mau, terus nikahnya batal? Semudah untuk ngebatalin? Kampret nih si Vega, bikin penasaran.

    Dib, jangan di stop dulu. Lanjutin, dong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, emang sengaja digantung, abisannya mentok juga yang nulis. Ehehe :D

      Lah malah ngomelin Vega :(

      Sayangnya hhhmm, sudah tamat. :(

      Hapus
    2. Tuh kan Dib. Balasan email Vega itu bikin penasaran. Maksudnya apaaa. Lanjutin dongs :(

      Hapus
    3. Yhaa gimana dong. :(
      salahin Vega lah, jangan ngomelin saya. :(

      Hapus
  10. A.Sem. Bang.et. I.ni. Mi.ris. Sum.pah :'

    Jadi intinya tetep, kalau punya perasaan sih baiknya diperjuangin kemudian dinyatain ya :' jangan dipendem sampai akhirnya menyesal dikemudian hari :'

    Ini, parah ngejlebnya :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. gitu.deh
      Yhaa, kalo punya perasaan yang jelas, seriusin ajalah, biar gak kena tikung.
      hhhmm

      Hapus
  11. Bangkeeeee. Terakhirnya bangkeeeee. Kesel dah. Nyesek antara pengen itu tanda kalau Vega pengen diperjuangin, atau itu Vega pengen Gamma mundur aja. Trus ucapan Mamanya Gamma bikin trenyuh. Beliau peka banget sama perasaan anaknya ya, Dib.

    Aura cerbung ini ngingatin aku sama You Are The Apple of My Eye. Mereka punya rasa yang sama tapi si cowok nggak mau memperjuangkan. Huhuhu. Sedih. Trenyuh. Ayok dilanjut, Dib. Ini keren sumpah. Aku masih pengen tau Vega itu bakal beneran nikah sama Candra atau gimana :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, yang di You Are The Apple itu sebenarnya memperjuangkan tapi nggak nyeriusin. Huaaa. Gammaaaaaaa kasihan, Dib :(

      Hapus
    2. Ehehe jangan kesel dong ca. :D
      Yha begitulah kehidupan, sesuatu tidak harus selesai dengan jelas, ada kalanya sesuatu harus berhenti ditengah ketidak jelasan. sedaaap.

      Aku belum pernah nonton You Are The Apple of My Eye, tapi barusan baca sinopsisnya di gugel, ya sama-sama ga memperjuangin juga, bedanya terakhirnya di ceweknya menikah ya dengan laki-laki lain. :D

      Untuk masalah Vega nikah sama siapa? terserah kamu deh ca, mau pilih gimana? :D

      Hapus
  12. uhhhhh,
    imajinasi tentang gamma dan vega akan berakhir sedramatis ini. gue nnggak nyangka, sampe main2 ke colorado
    ya, sudah seharusnya perasaan itu diperjuangkan. relevansi kisah gamma dan vega dengan kehidupan yang ada begitu terasa yak. gue setuju sama komen atas, mirip film you are the apple of my eye.. tapi itu film endingnya lebih ekstrim gile

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah
      iya main dong jev, jangan ke pulau pramuka doang, mana cuma 1,5 jam pula. :p

      wkwkwk :D

      Hapus
  13. aslii kereen deh ini cerpen, baru sempat baca, ngga nyesel mulai dari bagian pertama. karna bagus banget, sukaa sama alurnya. tapi kok gantung gini sih ceritanya, endingnya kecepetan nih,hehee
    kalau bisa adain bagian 3 nya doong kak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah terimakasih. :D
      Hahha, iya abisannya mentok gatau mau lanjut gimana lagi. :D
      sayangnya sudah tamat, ntar lanjut cerpen lain aja yaa. :D

      Hapus
  14. Tak bisa dibayangkan betapa sedihnya Si Candra itu, gimana gak sedih? Sehari jelang nikahannya dia sama vega, eh si vega mau dibawa kabur sama gamma, bakalan gagal nikah. Ya ampun, kejam benar si gama merusak pernikahan orang...

    Candra = Bulan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eitss, kan belum tentu dibawa kabur Gamma.
      tapi ya terserah la, kalo mikir nya begitu. :D

      Iyak betul, jadi bintang lebih cocok sama bintang apa bulan?

      Hapus