Rabu, 01 Maret 2017

Suka Duka Jadi Pewarta

15

Ngeblog sekali sebulan amat gua kaya bayar listrik.
Maafin ya, sedang mendalami dunia percak-cakan dan tebak-tebakan nih, agar supaya menjadi profesional.

Enggak ngeblog bukan berarti gua jadi gak produktif. asek. Gue tetep nulis tiap minggunya, nulis berita. Kebagian divisi reporter di RDK, mewajibkan gue buat nyetor 3 berita setiap Minggunya. Sebulan sudah jadi reporter, lumayan lah berasa suka dukanya. Dapet dateline 19.00 WI Bagian Ciputat pada setiap Minggunya, lumayan uga menciptakan pribadi gua yang udah gila jadi makin gila. Terimakasih redakturque




Udah nyampe kampus dari jam delapan pagi, ngaduk-ngaduk socmed dan official account dari Universitas, Fakultas, Jurusan, UKM, sampai Komunitas di UIN, muter-muter UIN kaya orang ilang. Dioper sana-sini sama narasumber, berasa barang haram gue buat oper-operan. Sok asik sama orang buat ngulik-ngulik berita, nge dm-dm in instagram orang, minta kontak abang-abang atau mbak-mbak buat jadi narasumber. Dari yang balesnya GeCe, sampai yang diread doang. Alhamdulillah sudah semua. Sejujurnya benarkah kehidupan pewarta sekeras ini? :')
Mau nangys

Jadi reporter radio aja gue udah berasa banget susah payahnya, padahal jangkauannya masih radio kampus lho. Apa karna gue nyari berita disaat kampus lagi libur ya? jadi minim kegiatan. Gak kebayang, kalau cita-cita gue sebagai wartawan benar terwujud. Bisa makin edyan gua. Tapi ngapapah, ini masih awal. Awal yang getir.

Untuk ke edyanan yang haQQ.

Pernah pada setiap Jum'at ( karena gua kebagian jadwal cari berita hari Jum'at ) pukul delapan pagi gua udah standby di studio RDK, bertapa deket stop kontak mengais-ngais serpihan informasi kegiatan mahasiswa di socmed. Satu demi satu akun instagram organisasi di UIN gue follow. Bedebah memang, angka following gua meningkat gara-gara jadi reporter, angka followers mah boro-boro. :''

Sampai jam 12 siang, tak jua kutemukan adanya serpih-serpih kegiatan yang bisa daku beritakan. Berbekal energi pecel gorengan goceng khas ibu-ibu tukang pecel UIN, gua muterin UIN, cari mahasiswa. Ada orang ngumpul gua samperin, ada yang pake kerudung samaan gua samperin, siapa tau dalam rangka mengikuti suatu event kan kerudungnya samaan. Padahal mah gak sengaja. Ada OB gue tanyain, ada satpam gua tanyain, masuk-masuk kantor TU, nyebelahin mahasiswa yang lagi Wifi-an gratis. Segala upaya.

Jadi pewarta, mau gamau membangun kepribadian gua menjadi lebih kepo. Entah kepo, entah lebih layak disebut suudzon. Tapi jadi pewarta gak melulu susah kok.

Yhaaa







SUSAHBANGETLAHANJER!!


Gak deh, ada senengnya. Senengnya jadi pewarta itu, gue jadi banyak kenalan baru. Dari anak Himpunan Mahasiswa, UKM, komunitas, satpam, sampai staff TU masing-masing gedung. Mantap bukan, social climbing yang menakjubkan!. Gak jarang karena harus mencari narasumber masing-masing dua untuk setiap berita, ngebuat kotak handphone dan riwayat chat gua di penuhi oleh orang-orang asing. Kalo lagi iseng nge-scroll chat tuh bawaannya istighfar aja," Astaghfirullah, siapa ini coba, kenapa gue bisa chat sama dia. Dosa apa gue Ya Allah," atau sesekali, " Ya Allah, cakep amat, leh uga nih save deh nomernya."

Yha lumayan kan ya, kalo papasan dijalan ada yang disenyumin karena pernah kenal lewat wawancara. ehe

Yhaa begitulah,

Itu salah satu point penting jadi pewarta, gue selalu punya kesempatan liat spesies abang-abang gemas di UIN. Dari yang gondrong ganteng, gondrong manis, cepak ganteng, cepak manis, berkacamata ganteng, berkumis tipis, berjanggut merah, abang-abang berpeci yang sholeh sampai yang botak menawan, pewarta pernah wawancara semua.

HAHAHAHA

Enak kan jadi pewarta?

Tapi ini siriusly, gua sendiri heran. Tanpa bermaksud genit mewawancarai abang-abang gantenk sebagai narasumber, tapi emang rejekinya gitu. Kadang gua pengen gitukan dapet narasumber cewek biar lebih enak ngobrolnya, tapi Allah menakdirkan lain, yang datang justru abang-abang, gantenk lagi.

Yhaa walaupun gak jarang dapet yang demek juga, tapi teteup kuantitasnya jauh lebih tinggi ketemu abang-abang gantenknya. Ngapapalah, demi kelancaran penulisan sebuah berita. Rejeki pewarta sholehah.. #AdibahSholehah2017

Jadi pewarta menuntut gue mau gamau harus nulis. HARUS WAJIB FARDHU A'IN!!
Tak peduli mau lagi gak mood nulis, lagi mager, lagi gak ada ide kek. Tetep harus nulis, dari pada digorok redaktur. Seperti itu. Berita harus sudah nangkring dikotak masuk e-mail redaktur pukul 19.00 WIB, kalo gamau di PC ditanya-tanyain apa kabar beritanya?.
Belom lagi kalo kena revisi, Ya Allah...

mau nangyz


Tapi, sesungguhnya dibalik segala kritik dan saran redaktur dan pemred Que. Gua sayang dan mengasihi segala kritik dan revisian mereka. Berasa punya editor pribadi, seenggaknya ada yang merhatiin tulisan gue, ada yang peduli dengan segala ke typoan ini, dengan segala kerumitan pemilihan kata ini, dengan segala ke-begoan gue dalam dunia tulis menulis berita. :')


















Senin, 30 Januari 2017

Postingan Awal Tahun

26


Inhale Exhale,
Fuiiih.. udah 2017. 
Udah mulai gak salah-salah lagi nulis tanggal di ujung atas kertas kan? yakalee udah sebulan.
Seperti biasah gue kalo ngucapin apa-apa selalu telat, termasuk tahun baru. 

Selamat Tahun Baru, jangan lupa beli kalender baru. :)

Udah telat, ngucapinnya gitu doang lagi.
Tulisan ini dibuat sejak awal tahun, sengaja diulur publishnya, biar kaya perasaan aku yang lagi ditarik ulur. Sekian

Gak deng. 
Sengaja diulur publishnya nunggu moment yang ciamik terlewati, biar sekalian. 
Biar gak kaya postingan Ta'aruf yang ditulis dari Oktober tapi gak kelar-kelar anjeeer, udah setahun!!
Padahal mah apa, gak sempet. Diri sendiri aja gak keurus, apalagi blog.
Memang kadang realita semenyedihkan ini.
4 bulan jadi Mahasiswa dan 5 kali jadi panitia acara. Itu berarti ANJER TERNYATA GUE MARUK JUGA. Ada kegiatan apa buru-buru ikut, giliran dilakuin ngeluh-ngeluh di socmed.
Memang kadang realita semenyedihkan ini (part 2). 

Tahun 2016 kemaren banyak banget hal-hal baru yang seharusnya bisa ditulis satu persatu dan menjadikan list postingan di tahun 2016 ini lebih penuh. Tapi apalah daya tak ada upaya. Di penghujung 2016 gue memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu Calon Anggota baru ( CAANG) pada sebuah Lembaga Semi Otonom mahasiwa di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta yang bergerak dibidang media, yaitu Radio Komunikasi dan Dakwah atau biasa dikenal RDK FM. 

Disini pada akhirnya gue dipertemukan dengan keluarga baru. Berkat pahit asamnya proses seleksi dan pendidikan yang kami lalui ber-yangawalnyaduapuluhsembilan ini. Doktrin "Kita ini satu tubuh" yang berkali-kali digemakan, sukses ngebikin gue menitihkan air mata saat kehilangan salah satu diantara mereka. 

Remeh banget padahal Ya Allah. Temen-temen SMA gue pasti bakal heran, gue yang paling jarang nangis ini bisa-bisanya menitihkan air mata demi teman baru yang kenal aja baru sebulan ini. Tapi seandainya mereka tahu kaya apa si temen-temen yang gue tangisin ini, mereka gak akan heran air mata gue yang mahal ini kenapa bisa jatuh.

Galak-galak gini Adibah orangnya setia kawan banget soalnya. Teman itu nomer 4, Setelah nomor satu Bismillah, yang kedua Allah, dan yang ketiga Keluarga. Kami ber-26 yang pada akhirnya melewati berbagai jenis magang dan melalui banyak rintangan dan siap untuk dilantik menjadi Anggota baru yang sesungguhnya. Sampai akhirnya tanggal 15 Januari silam setelah melalui manis pahitnya bangun-robohin tenda, mentas dari kubangan pindah ke empang, lelehan air mata dan renyahnya gelak tawa, kami ber-26 finally dilantik jadi Anggota Muda (ANGMUD). Meski belum resmi karena Musyawarah Anggota baru akan dilaksanakan pertengahan Februari nanti, kebahagiaan kami pun sudah tak terbendung, akhirnya apa yang kami perjuangkan bersama selama tiga bulan usai sudah. Maaf, belum usai maksud gue, baru saja dimulai.

Dramatis abis,

Sampai postingan ini di publish, kami ber-26 sedang gencar-gencarnya ngurusin BANSOS ALIANSI ( Alirkan Kasih Lewat Frekuensi ). Acara ini yang bikin gue jadi sering bolak-balik CFD, ngamen sana-sini, dagang ini itu, demi meraup pundi-pundi rupiah yang mampu melancarkan acara BANSOS ALIANSI tersebut diatas. Capek, jelas. Nyadan yang menghabiskan banyak waktu dan usaha, sampai-sampai moment tahun baru kami tersita.

Tidak seperti remaja pada umumnya, kami menghabiskan 2016 dengan menjual roti yang di impor dari Bandung di sekitaran bundaran HI. Suasana HI yang ramai bu-ibu sosialita dan keluarga cemara serta bapak-bapak berseragam dari polisi, satpam, satpol PP jadi medan jualan yang potensial bagi kami. Dengan sedikit memaksa kami menawarkan dagangan kepada para ibu-ibu sosialita, keluarga cemara dan bapak berseragam yang telah disebutkan di atas. Bukan suatu hal yang sia-sia, berangkat ke HI sejak pagi, muter-muter gak jelas, numpang makan ke rumah salah satu teman,sampai pada akhirnya kami berhasil menjual 75 potong roti di detik-detik terakhir 2016. Rupiah yang kami dapatkan memang tidak seberapa, tapi ada nilai yang kami dapatkan tanpa sadar dari malam itu selain rupiah dan rasa lelah.

Nilai itu adalah,







Gak ada ternyata.
CAPEK DOANG ANJU!!

Asli capek, pulang ke rumah masing-masing dengan busway, angkot, dan kereta terakhir membuat kami misuh-misuh sampai pagi. Tapi seneng sih. Akhirnya nemu temen yang mau diajak susah bareng. Tinggal nyari yang mau diajak berumah tangga bareng.

Eh, gimana?







Mengakhiri 2016 dengan mencari dana, kamipun memulai awal 2017 dengan hal yang sama, mulai dari jual suara di lampu merah, jual aqua di CFD, jual gelang dan lain sebagainya. Malam-malam dingin yang kita habiskan bersama ditemani nasi goreng khas Brebes, Kopi abang-abang, segelas plastik extra joss, diselingi lagu-lagu lama, guyonan receh, terciptanya joke - joke internal, pergunjingan yang menyenangkan akan menjadi kenangan-kenangan kecil yang tidak mudah kami lupakan.

Basic-basic anak radio tak terbendung membuat setiap pertemuan kami tidak luput dari obrolan-obrolan panjang. Alhamdulillah, bersama mereka bakat ghibah gue makin terasah. :) Ini kalo meetup lagi, temen-temen blogger pasti langsung bisa menilai, seberapa jauh bakat ghibah Adibah menjadi berkembang pesat. Maapin
Memang kadang realita semenyedihkan ini (part 3)

Disini gue ketemu keluarga baru.
Walaupun kalimat di atas terdengar agak bulsyid, tapi jujur gue sayang. Sayang-sayang malez sih sebenernya, karna seberapa menyenangkan mereka tetep banyak nyebelinnya. Suatu saat gue ceritain tabiat, perangai, personalitas dan tindak tanduk masing-masing dari mereka. Agar sahabat netizen tahu, betapa beruntungnya Adibah dipertemukan dengan mereka. :)

Sejujurnya, banyak yang mau gue ceritain. Tapi karna nulisnya pedot-pedotan jadi lupa pan mau nulis apa aja.  Yawdah la yaa, ntar kalo inget agar supaya dijadikan postingan baru biar menuh-menuhin list. Ehe

Sesungguhnya, di bawah ini hanya segelintir dari dokumentasi kebersamaan kami. Masih banyak foto-foto aib yang tidak baik untuk konsumsi publik.









 









Kamis, 29 Desember 2016

Selamat Hari Ibu, Maaf Belum Bisa Pulang

32



Ya maapin yak, gue ternyata emang nyolotin dari bayi.

Gak liat apa itu masih bayik, dipoto tangan udah mau nonjok orang aja. Ehe

Sebagai remaja putri keputra-putraan yang berhati lemah lembut bawa laksana, gue mau ngucapin Selamat hari Ibu nih. 

IYA TAU KOK TELAT BANGET ANJEER!! MANGNYA NGAPA KALO TELAT?!
DIMATA ALLAH AJA GAK ADA KATA TELAT UNTUK BERTAUBAT. TOLONG JANGAN JUDGE GUE YANG BARU TELAT NGUCAPIN SELAMAT HARI IBU DOANG.

 ALLAHU AKBAR!!

Oke, jangan galak-galak masih intro.

Selamat hari Ibu untuk seluruh Ibu, Mamah, Mami, Emak, Ambu, dan segala panggilan sayang untuk perempuan-perempuan luar biasa yang telah melahirkan anak-anak yang tidak berdosa namun lambat laun cuma bisa nambah-nambahin dosa ini ke dunia. Alasyuu

Sebagai anak perempuan yang tidak romantis, gue gak pernah kasih apa-apa ke Mamah pas hari ibu. Paling ngecie-ciein doang bisanya. Sudah tidak romantis, ditambah sekarang jauh dari Mamah, makin gak romantis gue. Paling aplod-aplod pencitraan doang di sosial media, agar supaya keliatan pernah dilahirin gitu.

Walaupun gak romantis, sejujurnya gue kangen juga sama Mamah. Ya, walaupun lebih kangen masakan sama omelannya ketimbang Mamahnya. Ehe.

Elah becanda Mah,  kaya ngatau anaknya kaya apa aja?

Tapi seriusan nih, kangen banget sama masakan Mamah, apalagi sayur asemnya, sambel terasinya, pepes bandengnya, tempe goreng, teh anget. Ya Allah kaya warteg lama-lama ini mah. Menurut gue gak ada yang lebih enak daripada masakan rumah. Mau makan di restoran termahal sekalipun. Gak ada yang bisa ngalahin nikmatnya nyeruput kuah sayur asem dari jagung yang dicocolin ke sambel di depan TV sambil nonton Laptop Si Unyil. Fabiayyiaala irabbikuma tukadhibaan?

Masak sayur asem yang bumbunya bawah merah, cabe, asem garem kehidupan doang aja enak. Gimana kalo udah masak yang lain? Mamah gue selalu juara kalo bikin bumbu, takarannya selalu pas  dan paling anti sama bumbu-bumbu instan. Setiap masak bumbunya selalu murni, buat bumbu halus Mamah selalu prefer ngulek. Maap ralat, gue yang ngulek maksudnya. Iya gue mah buruh ngulek doang di rumah, apalagi kalo udah lebaran, dari bumbu opor, sambel goreng, sampe gudeg gue semua yang ngulek. Giliran pas sholat Ied takbiratul ihramnya gak kuat. 

Dalam dunia masak memasak Mamah gue sudah bisa dibilang pro, saking pro nya gak jarang tiap lebaran banyak tetangga yang minta bikinin bumbu opor dan kawan makan lainnya. Iya bumbunya doang. Jadi bisa dipastikan nih kalo pas lebaran, rasa opor sederetan rumah di komplek gue sama semua. Pro bikin opor bukan berarti pro juga kalo suruh bikin roti atau kue-kue lainnya. Gagal mulu, sampe gak ngerti lagi ini salahnya disebelah mana. 

Setiap eksperimen pasti berakhir tragis, dari bikin bolu yang selalu bantet, giliran bikin brownies eh malah ngembang, bikin cakwe bantet, bikin donat bantet, bikin kue talam lembek. Ah ada aja deh pasti konfliknya kalo udah bikin kue. Dan liciknya nih, Mamah gak mau disalahin kalo mengalami kegagalan saat membuat kue. Dasar ibu-ibu.

Bilangnya  gue mulu atau adek gue yang bantuin yang salah, mixernya kurang lama lah, telurnya belom ngembang lah, kukusannya dibuka-buka lah, ngasih raginya kuranglah, adonannya kurang dibanting lah, nguleninya kurang lama lah. Au ah bodo.

Padahal nih yaa, kita sebagai chef junior melaksanakan prosedur pembuatan kue sesuai perintah dan arahan beliau sebagai Kepala dapur. Terus yang salah siapa Ya Allah, aku capek. Sialnya rasa penasaran Mama gue ini tinggi. Meski berkali-kali gagal, Mamah tidak pernah berhenti berkali-kali mencoba. Yaa Mamanya sih semangat, anaknya yang pusing, udah disuruh-suruh, kalo gagal diomelin pula. Sampe saking sebelnya gue, kalo Mamah minta bikin kue lagi gue bikin perjanjian sebelumnya.

" Nih Mah ya, aku ngikutin doang nih. Kalo gagal lagi awas aja aku yang diomelin, kesalahan bukan pada operator mixer pokoknya,  jadi gak jadi musti ikhlas nih, janji dulu."

Agar supaya kegiatan masak-memasak ibu dan anak berjalan penuh kedamaian.

Yang gue kangenin dari Mamah gue, selain masakannya adalah omelannya. Mamah gue apa aja bisa buat bahan omelan, kreatif banget emang orangnya. Kayanya semasa muda pernah jadi atlet nasional cabang ngomel-ngomel. Jangankan masalah anduk yang abis mandi ditinggal di gantungan belakang pintu, lagi masak aja ngomel-ngomel. Masih ngiris-ngiris sayur nih, ngomel,

" Itu ulekannya mbok dicuci dulu, masak itu harus rapih, kalo udah selesai langsung dicuci. jadi ringkes ngono lho."

Ya Allah, bentar kek yaa. ini ngiris sayur kan juga masih serangkaian kegiatan memasak. kalo udah kelar tinggal cemplung-cemplungin kan juga bisa nanti diselingi cuci ulekan. Ini enggak, harus sekarang, detik ini juga, karena 5 menit lagi haram hukumnya, sudah masuk waktu sholat yang lain.

Nah apalagi masalah sholat, baru nih 5 menit setelah adzan, udah ngomel,

" Denger adzan mbok langsung sholat, sholat kok males, sombong namanya gak mau minta ke Allah, wong Allah itu kalo dimintain apa aja pasti dikasih,  jangan sombong."

Ya Allah, ini adzan juga baru, tidak ada terbersit niatan untuk meninggalkan sholat, udah main judge sombong pula. Dan omelan wajib setiap harinya ke gue adalah,

" Tuhkan, nyuci piring itu mbok ya dari tadi malem, kan enak pagi-pagi udah beres. Kalo pagi-pagi gini kan Mamah mau masak nasi, panci mau dipake, piring mau dipake, mau bikin teh blablablablabla."

Wajib. Fardhu 'Ain.

Padahal piring kan gak cuma satu, di rak piring juga masih banyak. Tapi adaaaa aja alesan buat ngomel. kalo blogger biasanya #SelaluAdaCelah, kalo Mamah gue #SelaluAdaBahan.

Dan Mamah gue nih hobi banget nyuruh-nyuruh, ya wajar lah ya nyuruh anaknya. Yang bikin gak wajar itu cara nyuruhnya. Nyuruh nyuci baju, piring, angkatin jemuran, Rapihin kamar dan nyari Royyan yang gatau main ke mana dari siang secara bersamaan. Yakaleee

Tangan gue cuma dua nih, dikira gue amoeba kali ya bisa membelah diri. Kalo udah gini, biasanya gue bakal mencegah omelan lebih lanjut dengan,

" Sabar, ini tangannya cuma dua nih, badannya cuma satu. Kalo suruh balapan sama kecepatan Mamah ngomong ya kalah doong?" 

Selain gue alasan Mamah gue buat melakukan passion ngomelnya adalah adek gue yang terakhir, Royyan. Sama seperti kakak pertamanya, anak bontot dari 3 bersaudara ini passion isengnya luar biasa tinggi. Ada aja kelakuannya buat bikin Mamah marah. Dari hobi ngambil-ngambilin mangkok atau baskom untuk wadah ikan, bikin berantakan benang jahit, sampe main petak umpet dalem lemari baju yang pastinya bikin baju yang sudah disetrika rapi berantakan. 

Tapi, dibalik hal-hal yang menyebalkan dari Mamah. Jauh dilubuk hati terdalam, walau tidak pernah terungkapkan, gue sayang banget sama beliau.

Mamah yang gak pernah ngeluh kalo sakit, Mamah yang serba bisa, dari sulam-menyulam sampe naik-naik genteng. Mamah yang suka nyuruh yang tujuan sebenernya adalah, biar anak-anaknya bisa ngelakuin apa aja, yang pastinya berguna untuk kehidupan nanti. Mamah yang bikin gue kebangun jam 3 pagi tapi tidur lagi, karna denger suara air wudhu dari kamar mandi, Mamah yang selalu ngomel kalo teh angetnya gak diminum pagi-pagi, Mamah yang semenjak gue merantau selalu nanyain sarapan apa enggak. Mamah yang sabar, punya anak sama suami yang iseng banget dan suka berperilaku tidak jelas.

Aku gak bisa bikin kata-kata puitis sebagai wujud seberapa sayang aku sama Mamah. 
Maaf, aku gak pernah jadi anak perempuan yang baik dimata Mamah.
Maaf, kalo dimarahin masih suka marahin balik.
Maaf, belom bisa balik ke Pekalongan libur semester ini, karna kesibukan yang mahasiwi baru ini lakukan.
Maaf, cuma bisa jawab 'gak tau' kalo ditanyain 'kapan liburnya?'.

Alasyuu Mah.







Rabu, 07 Desember 2016

JNE Media & Blogger Gathering 2016 "Local Heroes Go International"

29





Seluruh alam dan seisinya mendukung gue buat hadir di JNE Media & Blogger Gathering 2016 Selasa pagi itu. Tiba-tiba grup kelas riuh karena satu-satunya dosen bahasa Indonesia yang bakal ngajar dikelas gue hari itu izin tidak masuk. Yang itu berarti,  LIBUR NGAMPUS!!

Atas hasutan temen-temen di grup WA Blogger Jabodetabek dan kesinambungan takdir dari Allah, akhirnya gue berangkat ke Gathering Media & Blogger di ulangtahunnya JNE yang ke-26 di XXI Longue Plaza Senayan, Jakarta Selatan ini. Dimulai dengan janji ketemuan sama kak Lia di Stasiun Pondok Ranji dan janjian lagi sama kak Vira di Stasiun Sudirman.  Setelah sampai di lokasi gathering ternyata sudah tiba beberapa rekan blogger yang lain. Sambil gathering sekalian meetup sama temen-temen blogger yang selama ini cuma dikenal via dunia maya aja, kalo kata pribahasa "Sambil menyelam minum-minum dululah selow, buru-buru amat" .

Sampai di lokasi gathering, gak lama kemudian adzan dhuhur. Sebagai remaja putri yang sholehah, gue, kak Vira, kak Lia dan bang Salam pun turun ke lantai dasar untuk sholat. Balik dari sholat, acara ternyata udah mulai, mulai makan-makan. Mantap kan ya jadi blogger? dateng- makan- dapet ilmu- dapet doorprize- dapet goodie bag- pulang. Makannya jadi blogger. Baru pertama kali ikut event-event kaya gii, selaginya ikut ternyata menyenangkan, mana dapet ilmu lagi, kan jadi enak...

Acara dibuka dengan baik oleh MC sambil bagi-bagi hadiah. Baik sekali bukan JNE? udah dikasih makan siang dulu, langsung dikasih hadiah lagi?. Acara dilanjutkan dengan sambutan Bapak M. Feriadi selaku Presdir JNE. Beliau menyampaikan program spesial ulangtahun JNE 2016 ini, yaitu HARBOKIR ( Hari Bebas Ongkos Kirim ) yang berlaku pada tanggal 26 sampai 27 November silam. Mantap jiwa, program ini berlaku untuk semua pengiriman barang dengan berat kurang dari 2 kg intracity, aliasnya dalam kota. Selain menyampaikan program spesial ulangtahun yang ke-26 Bapak Presdir JNE ini juga menginformasikan bahwa sekarang sudah ada JNE LOGISTIC, aliasnya makin bisa ngirim apa aja pake JNE. Tinggal tunggu tanggal main JNE ngeluarin program ngirim jodoh nih. Atau ngirim-ngirim salam biar gak kalah sama radio.

Acara selanjutnya adalah pengumuman pemenang undian 5 blogger & 5 journalist Goes to Bali. Yawlaaah mauu, sayangnya sebagai blogger yang diragukan keberadaannya because nulis segan tutup akun tak mau ini, gue sadar diri gak akan menang undian. Terbukti dengan yang beruntung adalah blogger dan para jurnalis handal, bukan remahan cireng kaya gue gini. :(

Usai pengumuman pemenang undian, acara masuk ke bagian intinya. Dimana ada mas Jaya Setiabudi selaku owner yukbisnis.com, lalu ada mbak Ria Sarwono selaku Brand & Marketing director Cotton ink, yang bagi-bagi ilmu nih tentang gimana sih membangun branding, menaikan emosional benefit sebuah produk dengan melakukan rename, repackage, dan yang terakhir repotition. Pokoknya gak percuma deh gue ikut acara ini, banyak banget ilmu yang gue dapet dari pembicara-pembicara yang ciamik.



Usai penyerahan sertifikat kepada pembicara, acara selanjutnya adalah acara yang Kak Vira tunggu-tunggu sedari awal. Dari awal banget, dari JNE belum didirikan. Yaitu, pembagian doorprize. Sebagai anggota klub jarang beruntung kalo pembagian doorprize, baik tingkat acara ulangtahun, jalan sehat se-kelurahan, perkemahan Sabtu-Minggu, sampai seminar Nasional, gue cuma bisa pasrah. Kalo gak dapet doorprize ya udah biasa, kalo dapet ya Alhamdulillah.

Dan Alhamdulillah, gak dapet. Kak Vira, Kak Lia, bang Andy, bang Salam, gak ada yang dapet doorprize semuanya. MAMPOS. Padahal doorprizenya ciamik, ada hp, voucher, sampai home theater. Hhhmm

Setelah berakhirnya sesi pembagian doorprize dan tanya jawab oleh peserta gathering, berakhir pula acara Media & Blogger Gathering 2016 kali ini. Segera melarikan diri setelah menenteng sebuah goodiebag. Yang keindahannya sudah dideskripsikan di blog Kak Vira dan Kak Lia. hahahah


Sekali lagi selamat ulangtahun JNE, semakin menjadi penyebab kami-kami para penggila belanja online bahagia karena ada kurir JNE ngetok pintu rumah, sesuai dengan tagline "Connecting Happines" serta sukses terus dalam usaha memajukan kinerja UKM untuk mengangkat jutaan produsen-produsen di daerah. Indonesia beruntung punya JNE. :)








Rabu, 02 November 2016

Kalau Kamu Anak Rantau InsyaAllah Kamu Tahu Rasanya

48

Lama gak ngeblog, gue jadi kehilangan bakat bikin judul tulisan. Jadi maapin yak, kalo judulnya agak malesin, tapi masih diusahakan agar menjadikan pembaca penasaran kok.

Masa sih, penasaran?

Ya kalo gak penasaran gapapa kok.


Seperti kata judul, Gue satu dari ribuan mahasiswa rantau UIN Syahid Jakarta.
Sebenernya bisa gak bisa sih disebut anak rantau, karna Ayah gue sendiri asli orang Jakarta, jadi itung-itung gue pulang kampung lah. Kampung Ayah. Tapi berhubung besar di Pekalongan dan kental akan budaya Jawa serta segala kearifan lokalnya, mari amini keberadaan saya sebagaimana mahasiwa rantau pada umumnya.

Rantau apaan, di Jakarta saudaranya dimana-mana.

Jadi anak rantau ini susah-susah enak. Susah karna yang namanya harus adaptasi dengan lingkungan baru, bahasa baru mungkin, lalu jenis makanan baru, ya walaupun gue yakin kalo di daerah kosan itu isinya warteg warteg juga, dan berbagai kebiasaan baru yang tidak ada di daerah asal sebelumnya. Gak melulu susah, jadi anak rantau juga ada enaknya lho, enaknya tuh..

hhmm..




Apa ya?
Gak ada ternyata.

Yaudah gakpapa.



Sebagai remaja putri yang besar di Jawa Tengah dengan segala dialek dan segala kearifan lokal yang dimiliki, gue selalu kangen sama kebiasaan-kebiasaan yang biasa gue pake waktu di Pekalongan. Salah satunya bahasa. Walaupun bahasa ibu gue bahasa Indonesia, tapi dalam pergaulan sehari-hari gue selalu pake bahasa Jawa dengan segala atribut Pekalongannya. Ini yang bikin gue tiap ada abang-abang atau ibu-ibu jualan disekitar kampus terdengar medok selalu jadi sasaran interogasi gue. Mulai dari nanya "Jawane pundi bu/pak?"  hingga berakhir dengan potongan harga makanan yang lagi gue beli.

Ciamik!!, Bahasa Jawa menyelamatkanku dari krisis akhir bulan.

Sampe-sampe di samping UIN kan ada ibu-ibu dari Pekalongan yang jualan ayam bakar gitu, suka nawarin " Nek arep mangan mrene bae nok, gampang nek  urusan mbayar, mrene bae pokoke," begitu tawarannya. Mantap sekali bukan? Solidaritas warga Pekalongan memang tidak dapat diragukan.

Naq Pekalongan bersatu tak bisa dikalahkan!!

Kerinduan gue atas berbahasa Jawa ini juga tercermin dari seringnya gue kumat iseng komen di blog orang pake basa Jawa, sambil berbodo amat itu yang punya blog ngerti apa enggak, pokoknya gue kangen ngomong pake basa Jawa dah, titik.

Temen-temen sekelas gue rata-rata dari Jakarta dan sekitarnya, dari luar Jakarta palingan dari Jawa Barat dengan bahasa Sundanya. Sedangkan yang dari Jawa Timur cuma sebiji, itu juga dia lebih sering pake boso walikan khas anaq Ngalam. Kan keder gue kalo diajak ngobrol walikan gitu. Yang ada bukannya kangen dengan basa Jawa gue terobati, malah lidah gue amnesia cara berbicara sebagaimana manusia pada umumnya

Tinggal di perantauan bikin jiwa Pekalonganisme gue meningkat. Tiap ada temen yang pake batik gue selalu jadi orang pertama yang bangga, mengingat Pekalongan sendiri terkenal dengan batiknya. Gue selalu jadi jauh lebih semangat tiap ada yang tanya Asalnya dari mana?, di Pekalongan ada apa aja si?, Pekalongan itu makanan khasnya apa si? dan mendadak lemes kalo ada yang nanya "Pekalongan itu Indonesia sebelah mana ya?."

Ya Allah, nilai Geografinya berapa sih? ^__^

Jadi anak rantau ngebuat gue dapet pertanyaan-pertanyaan yang nyeleneh dari temen-temen. Kaya,

"Di Pekalongan ada mall gak dib?"
"Di Pekalongan ada ATM kan ya?"
"Di Pekalongan emang ada stasiun?"
"Di Pekalongan ada universitas gak si?"
"Kalo di Pekalongan ada club gitu gak?"
"Pasti di Pekalongan gak ada transJakarta ya?"

YAEYALAH GOBLOY, KALO ADA NAMANYA JUGA UDAH BUKAN TRANS JAKARTA KALE !! TRANS PEKALONGAN !!

Ngatau ah MLZ.
Seakan-akan Pekalongan ada di Galaxy antah berantah, yang kalo mau kesana harus pusing-pusing balik ke masa Isra' Mi'raj buat minjem buraqnya Nabi Muhammad SAW.

Yang Jelas, sebagai anak rantau kamu pasti ngerasain yang namanya penderitaan akhir bulan. Dimana tanggal udah 25 keatas, tapi duit tinggal selembar dan banyak tugas yang mengharuskan adanya uang keluar, mau minta kirimin tapi harus tahu diri.

Maudy Ayunda kali ah, tahu diri.


Mau mindahin UIN ke Pekalongan aja rasanya.











Rabu, 12 Oktober 2016

Setelah Sebulan Lebih Sedikit

68



Selain kamu, ternyata nulis juga bikin kangen.


Gimana? pembukannya udah ciamik belom nih?

Akhirnya gue nulis blog lagi, setelah hampir sebulan lebih dikit disibukkan dengan kegiatan menulis yang lain. Menulis makalah, menulis IQRO', menulis Juz Amma, menulis laporan kuliah mingguan, dan menulis NIM di daftar absensi. Uwaah ternyata gini rasanya jadi mahasiswa.

Ternyata jadi mahasiswa itu gini yaa, tugasnya bikin makalah, presentasi, bikin makalah, presentasi, makalah, presentasi, makalah, presentasi, gituu mulu ampe lulus kali. Kecuali satu dosen gue yang kalo ngasi tugas beda.

Ada dosen mata kuliah praktik ibadah dan qiroah ( Matkul UIN banget ) ini kalo ngasi tugas bukan bikin makalah, tapi nyalin IQRO'.

Iya buku iqro yang warna item  terus bagian belakangnya ada kakek-kakek pake jas item sama peci sama kacamata itu. DISALIN.

Faedahnya apa coba?

Setelah tuntas salinan iqro gue, tugasnya nambah jadi nyalin Juz Amma. Iya Juz Amma yang warna merah kuning. Curiga nih abis ini suruh nyalin mushaf Al-Qur'an.

Jadi anak UIN gini amat Ya Allah..

Sebulan lebih sedikit sudah gue jadi mahasiswa, sebulan lebih sedikit sudah pula gue resmi jadi anak kos.

Huh, ternyata bener ya, jadi anak kos itu capek.

2 hari pertama kuliah gue masih bolak-balik Ciputat - Bekasi, dan jangan tanya deh capeknya. Ntaap.
Rasanya kaya nyasar di monas pas mau mitap 8 kali. Menggeh boss.

Ya bisa dibayangkan, dari Bekasi masuk ke Provinsi DKI Jakarta terus sampai menembus Tangerang selatan. Untuk macetnya silahkan masing-masing kalian bayangkan. Kalo 4 tahun begitu mulu, bisa-bisa gue lulus jadi sarjana yang angin-anginan.

Karna merasa bolak-balik Bekasi - Ciputat tidak baik untuk kesahatan jasmani serta rohani, akhirnya gue memutuskan untuk ngekos.

Gue tinggal di kosan yang gak jauh dari kampus. Deket bet lah, kayang 30 kali juga beuuh.. 
Tetep belom nyampe depan fakultas.

Tapi pokoknya deket, tinggal nyebrang UIN masuk gang belok dikit roll depan. Nyampe deh depan kosan.
Nyang jadi masalah,
Kosan gue ini campur. Cowok, cewek, anak jin, anak bawang, sama anakonda jadi satu.
Gak, gak sama anakonda kok becanda.

Kosannya nih campur cowok, cewek. Bukan sekamar campur cowok sama cewek yaa. Astaghfirullah.. kan enak. Kebetulan gue dapet kamar yang berada cukup di tengah dan kamar kanan kiri gue kamar mahasiswa. Jadi yaa, bisa dibayangkan berisiknya.

Sebagaimana anak cowok pada umumnya, mereka nih suka bawa banyak temen ke kosan, gatau dah ngapain. Pokoknya tiap malem sampai menjelang ganti hari kegiatan wajibnya itu maen gitar sama nyanyi kenceng-kenceng. Nyanyinya kalo gak lagunya iwan fals, Peterpan, Iwan fals, Peterpan. Dah diulang-ulang. Tiap hari. Tiap minggu.


Tiap malem.
Kanan Kiri.
Lulus dari UIN gue cangkok kuping.



Mana abang-abangnya gak cakep-cakep amat lagi, suaranya pun biasa aja. kan gak asik. Kalo lagi jemur baju jadi gak ada yang bisa dilirik. :(

Tapi ternyata tinggal dikosan yang campur gini ada untungnya, kaya waktu pertama kali tinggal di sana ada yang bantu pasangin lampu depan, ada yang bantuin ngisi token listrik, bantuin pasang gorden, terus pas dari sela-sela tembok keluar rayap ada yang bantuin nyemen tembok, bantuin angkat galon, yaa besok-besok ica kalee minta bantuin bayarin uang kuliah atau bikin skripsi.

Dan kosan gue ini unique. Kosan gue punya grup wasap, gilss. Dan obrolan di sana tuh gak penting fix. Jauh tidak penting ketimbang grup wasap blogger Jabodetabek. Selain punya grup wasap, dikosan gue ini pas lebaran idul adha kemaren ibu kosnya bagi-bagi undangan makan ketupat. 

Iya bener-bener undangan diketik, pake kop kosan kaya surat resmi. Parah kocak banget dah, niat abiss ngajak makan ketupat aja dibikinin undangan. :')

Sebagai anak kos pun gue sudah mengalami fase-fase sakit dikosan sendiri. Fix ga enak. Lemes-lemes sendiri, laper mau beli makan tapi mager. Pokoknya gaasik, maka untuk kamu sahabat kos sebangsa setanah air, jaga kesehatan yaa, jangan sampe sakit. Kalo kamu sakit yang nyakitin aku siapa?

Pokoknya mending gak punya duit timbang sakit dikosan. Eh, gajuga deh.
Gak punya duit juga bikin sakit. :(

Sebulan jadi mahasiswa gue udah sekali jadi panitia suatu acara. Acara kecil-kecilan sih bareng maba-maba sefakultas. BANSOS FIDKOM 2016 Alhamdulillah sukses terlaksana dengan segala kekurangannya. Setelah setaun lebih tidak jadi panitia, akhirnya gue bisa balik lagi ngurus acara. Keliatan lah pas acara kemaren, mana mahasiswa yang jadi panitia karna memang passion dan yang jadi panitia karna caper sama senior. :)

Sebulan jadi mahasiswa, gue jadi jauh lebih kenal sama temen-temen sekelas gue. Agak shock si diawal-awal, ini temen-temen cewek tiap nemu kamar mandi kerjaannya, masuk, ngaca, pake lipstick, benerin kerudung, pake parfum. Begitu muluuu..
Sebagai remaja putri keputra-putraan gue lumayan kaget. Emangnya jadi cewek harus banget gini ya?

Yang cowok-cowok juga, gak bisa apa gue dapet temen yang waras-waras gitu dikit. 

Belom lagi dosennya, belom ngasih tugas aja rasanya tiap dia ngomong bikin nambah pikiran. Ada yang ngasih tugas buru-buru giliran hari ngumpulin gak masuk, ada yang minta jam tambahan tapi pas kita sempet-sempetin dia kondangan.  

Yayaya, baru sebulan lebih dikit. Lumayan banyak yang bisa gue keluhin. Sekarang gue tau kenapa banyak mahasiswa yang pengen cepet-cepet lulus. Ternyata yaa, gak seenak jadi anak SMA. Tugasnya gatau waktu, banyak makan ati, belom yang anak rantau mikirin duit makan, belom lagi macetnya jalanan depan UIN Jakarta cukuplah kalo buat nambah-nambahin beban hidup.

Pantes tetangga kosan suka tau-tau teriak " Ya Allah, pengen cepet Luluss.." kayanya dia udah kebanyakan disuruh bikin makalah, nungguin dosen kondangan atau sudah berkali-kali dapet tugas nyalin iqro.



Senin, 29 Agustus 2016

PBAK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2016

49

kelompok tsubatsa (10) bersama mentor Kak Bombom dan seorang penyusup dari kelompok lain.

Uwaaah, akhirnya kelar juga Adibah ikut OSPEK, eh OPAK, eh udah ganti deh PBAK, Pengenalan Budaya Akademik & Kemahasiswaan. Uluuh uluh udah jadi mahasiswa, eh mahasiswi deh agar menjiwai sebagai  seorang wanita.

Masih kaya mimpi rasanya, setaun silam gue lagi bingung-bingungnya mau milih daftar univ swasta atau ambil gap year dulu. Temen-temen yang lain pada pamer photo ospek dengan teman-teman barunya sedangkan gue cuma bisa diem scroll scroll temlen dan belum dapet tempat kuliah. Gue sempet marah sama diri gue sendiri, kenapa bisa ketinggalan start gini sama temen-temen, sampe akhirnya gue sadar gak harus start bareng yang penting bisa finish bareng. 

Woelaah, kalo bisa coba lulus 3,5 tahun. Adibah mah ngomong doang.

Taun lalu akhirnya gue pilih gap year, dan gue sama sekali gak nyesel, gue beruntung sempet rehat dulu setaun. Setaun yang menurut gue luarrrr biasah, gue bener-bener banyak belajar setaun ini, jadi perempuan yang lebih kuat dari kemaren, lebih-lebih memaknai kehidupan deh pokoknya. Allah emang terbaeek lah tiada lawan. Jadi buat kamu, jangan pernah marah kalo takdir tidak sesuai harapanmu, Allah maha baik, Allah paling keren, percayalah segala takdir Allah baik buat kita, selalu baik. :)

23 Agustus kemaren pukul 3 pagi gue udah bangun, langsung siap-siap buat berangkat Pra-PBAK 2016. Berangkat dari Bekasi pukul 4 pagi sampe Ciputat pukul 5 pagi dan berjalan selama 4 hari. 
#Adibahkuath #AdibahOSPEKbekelTolakAngin #AdibahSholehah2016

Pra-PBAK kita dikumpulin disatu tenda depan perpustakaan umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kampus 1, tenda itu jadi basecamp maba Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syahid Jakarta selama 4 hari kedepan. Kami diajarin yel-yel fakultas, yel-yel yang bernada profokatif, jenis-jenis tepuk yang profokatif, dan beberapa lagu yang menggambarkan perjuangan para mahasiswa jaman dulu. 

Di Pra-PBAK ini juga kami kelompok tsubatsa dipertemukan. Eeaa
Teman-teman baru dari jurusan yang berbeda yang nantinya kerjaannya ngerusuh doang di grup wasap. Dibimbing kak Bombom selaku mentor, akhirnya orang-orang jayus ini dipertemukan.

Fakultas Dakwah ini keren abess. 
Setiap papasan sama fakultas lain, kakak senior langsung ngasi aba-aba untuk menyerukan yel-yel profokatif seperti, "Ekonomi Dakwah, Ekonomi Dakwah kita sodaraa.. TAPI BOONG!!, Ekonomi Dakwah, Ekonomi Dakwah, kita sodaraa.. TAPI BOONG!!" kalo papasan sama fakultas ekonomi, dan berlaku kalo papasan sama fakultas lain, tinggal ganti aja nama fakultasnya. Rusuh kan? BANGET.

Dan dibalas yel-yel bernada serupa dari fakultas sebrang.
Perang yel-yel makin memanas kalo kita udah turun ke lapangan, bener-bener uwaw, tercium sekali aroma permusuhan. Seniornya nih, bisaan banget lagi kalo bikin yel-yel main ledek-ledekan, ditambah semangat dari maba yang luar biasa buat nyanyiin yel-yel.

"Dakwah bersatu, taq bisa dikalahkan!!"

KEWREN, Adibah gak salah tempat lah disini. 
Pra-PBAK yang cukup bikin gue langsung kenal sama fakultas gue, ternyata fakultas dakwah ini,

UMBRUSE DYAAN, KABEH FAKULTAS BAE DIAJAK GELUT, NJALUK DIPANCALI SIJI-SIJI PANCEN!!

Tapi ini untuk kebutuhan PBAK belaka kok, diluar itu semua kami sodara se-UIN se-Bangsa se-Tanah Air.

Perang yel-yel makin memanas tanggal 24 Agustus 2016, PBAK Universitas sekaligus Pembukaan PBAK 2016 menurut gue jadi hari yang paling banyak ngeluarin suara, tiap ketemu fakultas lain yel-yel, jalan dikit yel-yel, ada yang yel-yel nyamber ikut yel-yel, Fakultas Dakwah disebut dikit yel-yel, Ya Allah, nyamber banget dah kek petasan haji.

PBAK hari pertama kami dapet materi tentang Anti Narkoba dan Radikalisme serta ditutup dengan promosinya UKM yang ada di UIN, yang cukup bikin gue mauu banget ikut semua UKM nya, muehuehuee...

25 Agustus PBAK hari kedua atau PBAK Fakultas, seharian penuh kita di basecamp alias di bawah tenda coklat. Yel-yel tetep digaungkan, gue curiga PBAK ini faedahnya bukan pengen ngenalin budaya akademik dan kemahasiswaan, tapi biar para maba lancar gembor-gembor yel-yel dan fasih tepuk tangan. Modus perekrutan penonton dahsyat nih pasti.

Hari kedua kita dapet beberapa materi tentang kemahasiswaan di Fakultas, mulai dari administrasi sampai tata tertib mahasiswa oleh dekan serta wakadek yang Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Salah satu peraturannya adalah bagi mahasiswa  dilarang berambut gondrong, apabila berambut gondrong maka segala proses adminintrasi tidak akan dilayani. 

Yhaaaa penonton kucewaaa..
Padahal mas-mas gondrong gitukan gemazz, apalagi senyumnya manis. Yawlaaaah..
Sebagai #Teammas-masgondrong aku agak keberatan sama peraturan yang satu ini.

Dihari kedua ini juga ada promosi LSO tingkat fakultas, jadi kaya pengenalan kegiatan-kegiatan yg ada di fakultas dakwah ini kaya TV, Radio, Kelompok fotografi, pecinta alam, tari saman, musik dan lain yang lupa gue sebutin. Hari kedua ditutup bersamaan dengan usainya promosi LSO pada pukul 17.00. 
Adibah balik ke Bekasi dengan lelah didalam metromini.

Hari ketiga PBAK 26 Agustus 2016, dihari-hari sebelumnya gue ngerasa capek banget ikut ospek, mau buru-buru pulang terus rebahan. Tapi dihari terakhir ini gue mulai takut kehilangan. 

asek.

Gue mulai takut ntar bakal kangen PBAK lagi, hhmm.
Suasana penuh semangat, tiap kegiatan dapet temen baru, sok akrab sama anak sebelah yang terus-menerus ganti. Ngerasain semangatnya 650 maba di bawah tenda, senyum-senyum lelah para senior. PBAK yang menyenangkan, sama sekali gak ada unsur perpeloncoan, kita kaya diajak duduk bareng, guyon, yel-yel, ketawa-ketawa, tepuk tangan udah gitu doang sepanjang PBAK.

PBAK hari terakhir adalah PBAK Jurusan, 650 maba sempet dipisah sesuai jurusan masing-masing untuk lebih mengenal jurusan, senior, dan teman-teman sejurusan.

Gue yang sebelumnya merasa nyasar di jurusan Kesejahteraan Sosial, karna basicnya gue lebih suka Jurnalistik, jadi enggak nyesel lagi. Walaupun gue sampe detik ini masih belum dapet point 'Pekerja Sosial' itu gimana, paling enggak gue tau rencana Allah nempatin gue di sini untuk apa, mungkin selama ini gue cuma punya cita-cita jadi orang yang berguna buat oranglain tanpa ada gerakan realisasi ke arah sana. 

Mungkin kebiasaan gue jadi tempat curhat dari dulu ada manfaatnya, Allah mau ngarahin gue biar gak cuma jadi tempat curhat tapi bisa jadi agen yang mampu membantu menyelesaikan masalah oranglain. Paling enggak hidup gue gak sia-sia tapi bisa berguna buat oranglain. 

Rencana Allah selalu indah. :)

Setelah ngumpul sama temen sejurusan dan diberi tugas diskusi singkat yang kebetulan kelompok gue dapet tema tentang Status Kewarganegaraan tapi gak jadi maju presentasi karena ga dapet giliran, padahal gue udah siap banget ini ngomong di depan membabat persoalan status kewarganegaraan. Kami pun dikumpulkan kembali di bawah tenda coklat, disuruh mengelompok lagi buat bikin spanduk dan siap turun ke jalan buat latihan Demonstrasi.

Mantep kan yak Fakultas Dakwah, baru juga masuk udah diajarin demo. 
Dulu gue benci banget liat orang demo, menuh-menuhin jalan, itu karena gue gak tau sebenernya mereka nih ngapain sih turun kejalan, memperkosa pita suara. Ternyata mereka sedang memperjuangkan keadilan, menyerukan suara rakyat, ternyata tujuan demo itu baik, asal tidak disertai kegiatan anarkis, harus ada yang berani turun ke jalan, sebagai agen perubahan Mahasiswa harus berani turun ke jalan. Hidup Mahasiswa!!


Wahai kalian yang rindu kemenagan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta
Kami menutup senja itu dengan aksi demonstrasi keliling kampus, dan kembali panas-panasan yel-yel tiap papasan sama fakultas lain. Dakwah emang terbaeek.

Pukul 18.00 kami maba Fakultas Dakwah masih berada asik di bawah tenda, maba dari fakultas lain satu-persatu terlihat pulang. Setelah melaksanakan upacara penutupan, spesial dari kakak-kakak panitia PBAK Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi kami diberikan sajian hiburan sebagai penutup PBAK tahun ini.

Pertama-tama ada penampilan dari UIN bersholawat, MasyaAllah sekali. Lalu ada penampilan 3 komik dari komunitas Stand Up Komedi UIN, yang sukses bikin gue ketawa ngakak, padahal kan jarang banget gue nonton standup ketawa. Tapi parah si ini abang-abangnya kocak abis, apalagi yang terakhir, masa iya muka mbak-mbak hijab dijilid. :')

Ada penampilan dari perkusi FIDKOM, lalu penampilan mas-mas gondrong bawa gitar membawakan lagu-lagu yang bernafaskan dakwah komedi. Dan ditutup dengan penyetelan video dokumenter PBAK FIDKOM UIN Syahid Jakarta 2016. Pukul 20.30 WIB, belum juga di play itu video tiba-tiba ada kakak panitia yang kalo gue gak salah inget namanya kak Aldi ngamuk-ngamuk merangsek ke tengah panggung. 

"Nggak jelas lo!!" serunya sambil menunjuk ketua panitia yang sedang memberikan sepatah dua patah kata.

Ketua panitia yang kaget datang menghampiri kak Aldi dengan muka pucat campur lelah, beberapa panitia melerai agar tidak terjadi keributan, bahayanya kak Aldi yang lagi marah tiba-tiba mengoyak salah satu tiang tenda, sehingga tenda coklat di atas kami bergetar hampir rubuh.

Semua maba panik, takut terjadi hal yang tidak-tidak. Sebelum kami semua kabur berhamburan dari tenda, tiba-tiba terdengar suara ledakan kembang api di atas tenda dan seorang kakak senior berteriak di atas panggung, "SELAMAT DATANG MABA FIDKOM 2016!!" Yang disambut sorakan lega dari para maba. 

NJAY, SA AE NIH RANG ORANG. BIKIN PANIK AJA!!

Gue kira beneran ada yang berantem, taunya cuma mau ngusilin ketua panitia sama mahasiswa baru aja. Eeww.

Ketua panitia duduk lemes di panggung, PBAK FIDKOM 2016 ditutup dengan pesta kembang api dan ucapan terimakasih dari Mahasiswa baru FIDKOM 2016.

"Terimakasih kakak, terimakasih kakak, terimakasih kami ucapkan,
Terimakasih kakak, terimakasih kakak, terimakasih kami ucapkan,
Terimalah salam dari kami yang ingin maju bersama-sama,
Terimalah salam dari kami yang ingin maju bersama-sama.."

Malam itu kami resmi jadi mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jujur seru banget sih, rasanya gak mau pulang maunya digoyang..

PBAK telah berakhir, kegiatan perkuliahan akan segera dimulai. Terimakasih untuk kakak-kakak panitia yang sudah mengorbankan waktunya beberapa bulan silam untuk mempersiapkan acara ini, terimakasih teman-teman baruque, jangan menyeusal pernah kenal aque yaa, selamat bekerja sama kedepannya. 

Terimakasih teman-teman yang sudah mau baca, semouga ini bukan tulisan terakhir menjelang masa perkuliahan. Dan tolong dong Mahasiswi UIN yang lagi nyari kostan yuk bareng aque lagi nyari temen sekostan nih elah.


Tsubatsa squad

Tsubatsa squad