Rabu, 06 April 2016

[ Cerpen ] Bintang Gamma ( Bag 1 )

28





Hai, aku Gamma.
Aku mahasiswa tingkat pertama di salah satu universitas swasta Ibu Kota. Hobiku jalan-jalan, Indonesia adalah surga kecil bagi orang-orang yang suka bertualang sepertiku, ya itung-itung banyakin kenalan sukur-sukur ada yang cantik dan bisa dijadikan partner mengarungi kehidupan nanti. Hehehe.

"Gamma, woy! kamu denger gak si dari tadi aku ajak ngomong?"

"Hah? gimana Veg? tadi apa?" balasku agak kencang, bersaing dengan angin dan riuhnya lalu lintas Ibu Kota di siang yang terik ini.

"Ah elah, tuh kan kamu mah budek dipiara, itu toko kain nya udah kelewat Gamma... puter balik!." Serunya tak kalah kencang, tepat di samping telinga kanan ku.

"Iya, iya bawel banget."

Oh iya, yang tadi namanya Vega, dia sepupu ku. Kita lahir beda sehari, jadi aku dulu yang lahir baru besoknya dia. Dari kecil kita selalu main bareng, dia dari kecil emang gitu, bawel. Tapi anehnya aku selalu betah main sama dia, ya walaupun berkali-kali dibawelin.

"Heh Gamma, ternyata kamu gak cuma budek ya, siwer juga itu mata." Teriak Vega  nyaring sambil menepuk keras bagian belakang helm ku.

"Itu ada puteran balik, belok dong elah. Kan jauh lagi muternya, gimana sih? mana panas banget lagi, ini sejak kapan neraka pindah ke Jakarta sih?"

Aku  pun melirik ke spion kanan, benar juga kurang lebih 30 meter di belakang ada belokan untuk putar balik, dan untuk menemukan putaran balik serupa masih 1 kilo lagi. Aku mengusap peluh yang membanjiri dahiku, "Kamu si Veg bawel, gak ngingetin kalo ada puteran balik, kan jadi makin jauh gini deh."

Vega menepuk belakang helm ku lebih keras, "Eh, Oli samping, enak aja kamu nyalah-nyalahin aku, aku udah bilang dari tadi ada puteran balik, kamu aja yang bengong. Pake nyalah-nyalahin aku lagi, inget ya Gam, aku ini cewek gak mungkin salah tau gak?"

"Iyadeh ah aku yang salah, kalo ada puteran balik lagi ingetin yang kenceng dong jangan bisik-bisik, biar kedengeran." Huh, dasar cewek gamau disalahin.

"DARI TADI JUGA AKU UDAH TERIAK-TERIAK OLI SAMPING!!" teriak Vega, kali ini benar-benar berteriak, sampai beberapa pengguna jalan memandang kearah kami.


---

"Veg, minta kiri Veg, buru aku mau putar balik." seru Gamma sembari memberikan lampu sein ke arah kanan untuk putar balik.

"Iya-iya nih udah, pak berenti dulu dong gantian lah, saya kan juga mau lewat." seru Vega seperti biasa tidak sabaran sembari melambai-lambaikan tangan kirinya, dan dibalas tatapan masam Bapak-bapak dengan jaket motor tosca mengembang.

---

"Itu di depan yang plangnya oren itu bukan toko kainnya?"
Tanya Gamma sambil menunjuk ke barisan ruko di sebelah kiri jalan.

"Yak tul, awas jangan sampe kelewatan lagi ya."
Jawab Vega sambil mengacungkan jempolnya dan menekankan ke bagian belakang helm Gamma.

"Iya- iya elah."

Gamma memarkir motornya di depan toko kain yang Vega maksud. Vega langsung masuk ke dalam toko dan mulai menyebutkan kain-kain yang akan Ia beli. Vega sibuk memilih kain untuk seragam keluarga acara pernikahan kakak Gamma bulan depan. Sedangkan Gamma asyik bersandar pada gulungan kain.

Vega yang bawel mulai menunjuk kain ini itu membuat repot pegawai toko kain.
"Bukan yang ini Mas, saya kan mintanya warna Burgundy mas, Burgundy. Kalo ini mah Dark Red." protes Vega menunjuk gulungan kain yang baru saja diberikan pegawai toko.

"Ya Allah,sekilas gak keliatan kok neng, sama aja." bela pegawai toko kain.

"Gak bisalah. Beda mas tetep aja, Burgundy itu lebih tua dari Dark Red. please deh." balas Vega tak mau kalah.

"Huh, dasar perfeksionis" gumam Gamma memerhatikan gerak-gerik Vega.

Suasana toko yang lumayan rame ditambah teriknya cuaca di luar yang sangat terik membuat pendingin ruangan di toko tersebut seperti tidak berfungsi. Vega sesekali mengelap peluh didahinya, merapihkan anak rambut yang mulai berantakan di sela-sela kerudungnya, dan sesekali meniup ujung kerudung, entah untuk apa tujuannya.

"Kalo lagi serius milih kain gitu, bawel nya Vega bawel cerdas gini kan tambah manis, daripada teriak-teriak bikin pengang telinga. Ngerti banget dia ya soal dunia perkainan gini, mungkin sudah saatnya dia buka toko kain sendiri." Gumam Gamma dalam hati.

"Yaelah gitu aja gak kuat mas, siniin deh saya yang bawa." Ucap Vega sembari membantu pegawai toko membawa segulungan besar kain satin tanpa terlihat kesulitan sedikitpun.

"Buset, kuli bu?" ledek Gamma yang sedari tadi hanya diam memperhatikan gerak-gerik Vega.

Vega hanya menjulurkan lidahnya menanggapi ledekan Gamma.

Gamma hanya nyengir melihat Vega yang benar-benar manis kalo lagi tiba-tiba muncul sifat kulinya.

"Tadi kata mama kamu berapa meter Gam butuhnya? Gam? Gamma?!? Buset ini anak diajak ngomong malah nyengir-nyengir sendiri. Gamma!!" Teriak Vega yang sedari tadi bertanya kepada Gamma tapi hanya ditanggapi dengan senyuman dan tatapan kosong.

"Mas, diajak ngomong tuh." senggol seorang pegawai toko kain tersebut.

"Eh iya apa, yang warna itu bagus kok, manis kalo kamu pake." Jawab Gamma gelagapan.

"Hih, apaan si? tuhkan ditanyain apa jawabnya apa. Kasihan gak si mas saya punya sodara kaya dia? susah deh." Ucap Vega lelah, lalu lanjut memberikan intruksi kepada pegawai toko untuk memotong kain menjadi beberapa bagian.

Gama hanya kembali nyengir menyadari kebodohan yang sepertinya baru saja dia lakukan. "Emang dia tadi tanya apa si mas? salah ngomong ya saya tadi?" Tanya Gamma bingung kepada pegawai toko yang tadi menyenggolnya.

"Mas nya gak salah kok, emang kain yang tadi manis kalo dipake sama eneng tadi. Cuma ya gak nyambung aja jawaban Mas sama pertanyaan si Eneng. Hehehe" Jawab pegawai toko tersebut.

---

Lelah sesiangan berkeliling toko kain dan baru sampai rumah saat matahari mulai turun ke ufuk Barat, Gamma dan Vega kembali ke rumah Gamma untuk memberikan kain yang usai mereka beli dan membaginya sesuai jumlah keluarga besar.

Gamma dan Vega adalah sepupu dekat, sejak kecil mereka selalu bermain bersama, meski hanya bertemu saat acara keluarga atau hari raya tiba, dikarenakan rumah mereka yang memang beda provinsi. Tak pernah sekalipun jarak dan waktu yang memisahkan membuat mereka canggung saat bertemu kembali. Mereka selalu bisa akrab lagi dan lagi meskipun harus diawali dengan aksi ledek dan toyor pada awal pertemuan.

Setiap kali bertemu. mereka berdua punya kebiasaan melihat bintang yang biasa mereka lakukan di atap rumah, saat melihat bintang selalu ada saja hal yang mereka bicarakan, maksudnya Vega yang lebih sering  berbicara dan Gamma yang lebih sering asyik melihat kearah bintang. Malam ini setelah sekian lama mereka tidak melihat bintang bersama akhirnya mereka memulai kebiasaan itu lagi.

"Gamma, bawa kue sama minum dong, buruan." Seru Vega dari atap rumah Gamma.

"Bukannya dari tadi elah, ini udah mau naik tangga nih." Protes Gamma, yang sudah bersiap untuk menaiki tangga.

"Turun lagi, ambil dulu." balas Vega.

"Iya iya bawel."

Gamma mengambil kue dan sebotol air minum dari dalam rumah, kemudian kembali menaiki tangga untuk menuju ke tempat Vega.

Langit malam itu bersih, bintang-gemintang tersebar indah seakan tahu mereka sedang jadi bahan tontonan dua orang anak manusia yang kini tidur-tiduran menghadap langit di atap rumah.

"Terakhir kita ngeliat bintang bareng kapan ya Gam?" Vega mengambil sepotong kue yang tadi Gamma bawa.

"hhmm, SMP ya? eh lebaran waktu kelas 2 SMA deh. iya gak?" jawab Gamma, sembari meletakkan tangan kirinya sebagai bantalan.

"hhm Iya kayanya. tau deh lupa." jawab Vega.

"Kamu si, tiap liburan bareng keluarga besar ngilang mulu, ada aja acara sama temen." Kata Gamma lirih.

"Uhuk..huk huk.." Vega membalikkan tubuhnya, meminum air yang tadi sempat Gamma bawa, "Keselek...tapi aku masih suka liat bintang lho walaupun gak bareng kamu, seru aja liat bintang dari atas genteng, adem, bintang-bintang kan baik sinarnya selalu jujur. Kamu masih sering lihat bintang juga gak, walau gak ada aku."

"Enggak." Jawab Gamma singkat, melirik  kearah Vega.

"yaah Gamma mah, emang kenapa?" tanya Vega.

" Ya ngapain juga aku liat bintang sendirian?" Jawab Gamma, sembari bangun dan memeluk kedua lututnya.

"Kan ada bintang, kan dulu kamu yang bilang kalo bintang-bintang di langit itu temen kita. Kamu yang bilang kalo ga perlu ada kita berdua kalo mau lihat bintang, kalo aku mau ngobrol sama kamu, aku suruh ngobrol aja sama bintang." ujar Vega lanjut memakan potongan kuenya.

"Ya itukan dulu, dulu aku masih kecil kan ngomongnya suka ngaco, jangan percaya." balas Gamma.

"Yaah padahal sampai sekarang aku sudah terlanjur percaya." Vega merubah posisinya menatap bintang dilangit malam.

---

Hai, sekarang aku sedang melihat bintang dengan rekan melihat bintangku sejak kecil, namanya Vega. Kami mulai kebiasaan ini sejak usia 7 tahun, dulu kami belum bisa naik ke atas genteng sendiri, kami selalu dibantu saudara kami yang kebetulan ada saat kami ingin melihat bintang.

"Kalian ini aneh-aneh aja, liat bintang dari bawah sini juga keliatan, kenapa harus di atas genteng sih?" itu yang selalu saudara ku katakan saat kami minta dibantu naik ke atas genteng.

Kami selalu melihat bintang saat kebetulan keluarga besar kami menginap bersama, saat melihat bintang biasanya kami saling cerita, tepatnya Vega lebih banyak bercerita. Mulai dari kejadian di sekolah, teman-teman yang rese, mainan baru, sampai cerita orang-orang yang sempat naksir saat kami mulai beranjak remaja.

Aku senang melihat bintang, tapi aku tidak pernah melihat bintang sendirian. Karna satu-satunya bintang yang ingin aku lihat hanyalah Vega.

"Vega, kalo boleh memiliki bintang kamu mau ambil yang mana?" tanya Gamma iseng.

"Yang itu tuh, bintang ke bentar satu..dua..tiga...empat yang ketujuh sebelah kanan dari bulan, yang agak keatas dikit, nah cakep kan?" jawab Vega sambil memicingkan sebelah matanya.

"Kalo kamu yang mana Gam?"

"Nngg aku pengen si, tapi kayanya gak mungkin deh"

"Ih gimana si? tadi kamu yang bilang kalo boleh memiliki bintang malah kamu sendiri yang ragu. Aneh" Ujar Vega, duduk menyebelahi Gamma.

Vega asyik melihat lurus ke arah bintang-bintang di atas sana. Gamma menatap Vega dari samping,"Soalnya bintang yang aku mau bukan di langit Veg."

"Terus? Bintang laut?"

"Bukan, tapi kamu." jawab Gamma lirih.

Vega mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang di atas sana ke arah Gamma. Mata Gamma yang teduh malam ini semakin teduh, tatapan tulus sekaligus sedih terpancar dari matanya.

"Emang gak seharusnya aku bilang kaya gini ke kamu Veg, kita ini saudara, selamanya kita saudara. Tapi aku gak tau perasaan apa yang tumbuh di hatiku selama ini, setiap aku ketemu kamu, setiap aku dengar cerita tentang kamu, setiap kita sesekali berkirim pesan singkat, setiap kali kamu tiba-tiba ngacak-ngacak kamar ku waktu kamu dateng dari Jawa, aku gak tau Veg kenapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya setiap ada kamu." ujar Gamma panjang.

"Gam" Vega menatap sedih ke arah Gamma.

Gamma beringsut memeluk Vega,"Aku gatau kapan tepatnya perasaanku ke kamu jadi berubah, yang aku tau aku selalu kangen kamu setiap hari, aku selalu bersemangat saat Mamah bilang kalo ada acara keluarga, aku selalu semangat kalo mamah bilang lebaran ini ada halal bihalal keluarga besar dan sekaligus aku selalu kecewa kalo ternyata kamu gak ada diantara saudara-saudara yang lain. Aku benar-benar merasa kehilangan setiap kamu asyik dengan acaramu dan teman-temanmu."

"Veg, baru kali ini aku berani bilang kalo aku sebenernya sayang banget sama kamu, aku gak tau apa nama  dari perasaan ini, yang aku tau rasa sayangku ke kamu beda dengan perasaanku ke sepupu yang lain. Aku bener-bener sayang sama kamu Veg. Dan aku tahu, aku sudah siap patah hati jauh saat pertama kali aku juga jatuh cinta padamu, aku tahu perasaan ku ini tidak akan bisa diperjuangkan. Aku paham dari awal bahwa perasaanku ke kamu bakal sebatas ini saja. Aku tahu, perasaanku ke kamu selamanya akan hanya sekedar perasaan Veg, tidak pernah bisa lebih. Tapi bolehkah aku berharap lebih Veg? seandainya langit malam ini mendengar, seandainya bintang-bintang diatas sana punya telinga, apakah mereka akan menyalahkan apa yang telah aku ungkapkan malam ini?."

"Apa benar cinta tidak pernah jatuh pada orang yang salah? jika iya, usaha ku mencari pembenaran atas perasaan ini ada jawabnya. Veg aku mencintaimu, kamu satu-satunya bintang yang ingin aku lihat."

Malam itu terakhir kali kita melihat bintang bersama sekaligus pertama kalinya Aku berbicara lebih banyak dari Vega saat melihat bintang. Vega tidak berkata apa-apa lagi malam itu, yang dia lakukan hanya membalas pelukanku dan aku merasakan pundak kiriku mulai basah.

28 komentar:

  1. Haha itu tokoh Gamma bikin naik darah deh, ngomong ke dia harus beberapa kali di ulang. Cape kalau lama-lama ngobrol sama si Gamma yang bukan pendengar yang baik wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iya mbak ya. ngeelin ya. tapi lucu malah menurutku.

      Hapus
  2. Si gama bawain kue dasn sebotol air
    Kue dasn sebotol air, kue apaan neng?
    .
    Wah hebat ya julukan si gama itu oli samping
    Keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. tau deh tanyain aja Gamma kue apaan bang. :(
      nngg itu gak sengaja. :(

      Hapus
  3. Wowow ceritanya okeh juga tapi rada ngeselin sih sebenarnya.
    Ahi hi hi tapi tetap seru kok.

    BalasHapus
  4. Sedih :( Vega yang kayaknya berkepribadian ekstrovert dikagumi dan dicintai sama Gamma yang kayaknya berkepribadian introvert. Trus mereka sepupuan :(

    Vega itu kayaknya rada mirip sama kamu deh, Dib. Atraktif dan cerewetnya itu. Huehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah ca. tunggu aja bag.2 nya. :')

      Ya Allah enggak ada urusannya sama guaa. Vega ya Vega, tidak ada sangkut paut dengan penulis. :(((

      Hapus
  5. Ini bagian pertama, gue udah punya bayanganyan sih, karakter Vega ini seperti apa, nice. Dan kampretnya, gue setuu dengan Icha, gue malah bayangin Vega itu mirip kayak lo. Kalo Gamma, udah dapet bayangan dikit, tapi belum terlalu dapet.

    Gue suka obrolan pas ngeliat bintang. Tapi, ini ngerasa kecepatan gak, sih, buat si Gamma bilang cintanya. Harusnya di bagian ini, nyeritain latar belakang masing-masing tokoh, cerita basa-basi dulu lah. Ntar di bagian dua, baru deh, disikat. Soalnya kan cerpen bersambung.

    Gapapa yah dikasih saran dikit. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaak kenapa begitu semua. ;( padahal niatnya justru enggak. :(

      Iya kecepetan ya? baru sekali ini bikin cerpen si :D
      padahal ini tulisannya udah dibagi 2 pas. iyaa gapapa dong, malah seneng. terimakasih sudah dikasih saran.

      Hapus
  6. DIBAH. SUMPAH DEH INI KENAPA BISA GINIIII

    Pas baca judulnya, aku langsung teringat dengan Gama. Sepupunya aku di Padang. Kampretos. Kenapa bisa samaan gini sih. Sepupuan, jarang ketemu, tinggal di provinsi yang beda. Tapi nggak beda pulau. Heheee

    Aku pernah pacaran malah dengan Gama, sepupuku. HAHAHAHAHAAAA
    Aku baca ini ngerasa dejavu. Duh Dibah :')

    Lanjutin buruan bagian keduanya. Aku penasaraaaannn

    BalasHapus
    Balasan
    1. tuhkan cocoklogi ku kumat lagi.
      Jadi inilah jawaban yang sesungguhnya untuk Icha, cerpen ini bukan tentang gue, tapi tentang wulan sama sepupunya. okesip.

      Ya Allah lan, gimana rasanya pacaran sama sepupu sendiri? :'')

      sabarr-sabarr.

      Hapus
  7. Dib, kok Pange ngerasa cerpen ini jalan ceritanya sama degan beberapa novel yang pernah Pange baca kemaren. Endingnya persis, tokohnya sama-sama sepupuan gitu juga. Malahan ada yg saudara deket dari kecil. Tapi mereka gak jadi nikah karena keduanya masih bener2 sayang. Entahlah, cerita semacam ini kok nyesek bacanya. "Eh gue kok jadi ngelantur ke mana-mana gini, dib."

    Intinya keren, sih. Soal kecepetan atau enggak. Itu biasanya dalam cerpen. Tapi, kalo ini Cerbung, keknya endingnya udah spoiler nih. Harusnya digantung segantung2nya dib. Saran, sih. Aku juga masih belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya ya pange? aku sih belom pernah baca. kebetulan tercetus ide gini aja. :D
      Hahaha :D

      ehehe :D
      terimakasih atas kritik serat sarannya pange, coba di terapkan insyaallah.
      pengen dibikin ngegantung si, tapi digantunginkan bikin cakit atii.. :(

      Hapus
  8. ehem, cukup naas ya percintaannya. ya mungkin cinta memang buta dalam segala, termasuk dalam hal status. ini ada sedikit unsur incestnya dong yak antara gamma dengan vega. keren ini filosofi zodiak nya (?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yhaa cinta-cinta. memang serba sulit jev.

      Ahaa yaa sedarah juga bisa dibilang enggak si, kan bukan kandung.
      Nama bintang, bukan rasi bintang jev. :D

      Hapus
  9. Kampret banget. Udah komen sedemikian kritis malah koneksi internet mati. Asem.

    Gue kira cerita ini udah selesai pada awalnya. Ternyata ada tulisan "bagian satu". Biasanya, cerita yang ada bagian-bagian gitu punya ending yang gantung. Kalo ini kurang deh kayaknya, in my opinion. Halah, sok inggris.

    Lanjutin terus ceritanya. Tambahin dakwah supaya ter-branding :D jadi inget chat grup WA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makannya piknik Rob, agar semesta mengaminimu.

      Uhuy makasih buat kritik dan sarannya Rob. iya sengaja gak dibikin gantung biar gak nyakitin orang lain. tapi diusahakan. :D

      MasyaAllah.
      masa cerpen percintaana ada dakwahnya. tapii sabilah ya dicoba. :D

      Hapus
  10. Ng... percis seperti yang dibilang Heru. Gue kayak pernah baca novel apa gitu yang kisahnya mirip. Ahaha.

    Tapi ini cerpen ditulis dengan gaya lu. Jadi beda. Apalagi karakternya juga beda. Saran gue, dialog yang di bagian ending itu kayaknya kepanjangan deh. Dipersingkat biar lebih efektif gitu. Atau ditambah deskripsi. CMIIW. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Novel apa sih? penasaran deh jadinya.

      iya yaa si Gamma jadi kaya gak napas pas ngomongnya ya?
      oke, terimaksih bang atas kritik serta saran yang diberikan. :D

      Hapus
  11. Jadi mereka berdua kena sepupuzone?
    Btw istilah baru tuh, jangan lupa catet!

    Namanya Gamma sama Vega, keren namanya kek namanya bintang gitu. Pas banget ada scene yang lagi ngelihat bintang bareng. Penasaran endingnya nih, meluncur kesana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha :D
      Catet.

      Iya sengaja. mereka sama-sama bintang, sama-sama indah tapi ya gitu deh.

      Hapus
  12. Wuih, ada cerpen disini.

    Haha, dua karakter yang berbeda ya disatukan dalam satu drama. Bisa jadi bumbu-bumbu cerita tersendiri tuh. Setuju sama Vega, entah sejak kapan dah neraka pindah ke Jakarta, kutukan buat warganya kali haha. Panas banget euy!

    Dibah, kalimat lo mengalir lancar, enak dibacanya. Bisa jadi karena emang penggunaan kalimatnya sehari-hari, jadi lancar. Itu yang pas bagian sudut pandang orang pertama (si Gamma dalam bentuk "aku") mengambil alih cerita, ngga ada pembatas akhirnya, langsung jumping ke sudut pandang orang ketiga lagi. Mungkin next-nya bisa dipisah, malah kalo sudut pandang orang pertamanya diperdalam, bisa lebih menghayati, jadi lebih bisa memperdalam karakter dulu :D

    Oke, itu cuma saran pembaca awam, ngga apa-apa ya? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah kok malah ngeluhin jakarta ya. :D

      iya yaa.
      cari ngasih "batas" sudut pandang gimana si bang? suka bingung, apalagi kalo masih satu scene. Eheh :D

      Siaap. terimakasih untuk segala kritik dan saran nya. Ya gapapalah, justru seneng keleuss. :D

      Hapus
  13. Hmmm asik dib, yang pertama lo make POV tokoh utama cowok, bukan cewek. jangan2 lo pernah jadi cowok ??
    yang kedua, lo ngangkat cinta terlarang nih, biasanya kalo ada ikatan sodara pasti terbentur keluarga.
    Tapi gue pernah denger sih, kalo sepupu itu bukanlah mahram, jadi syah2 kalo dinikahi. cuma ada beberapa adat yang memang gak ngebolehin hubungan cinta antar ikatan darah.
    Yawla~~ malah jadi serius gini commentnya..

    Maap. Nyambung ke bagian 2 lah ~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. nnng jadi gini....

      Iya, sepupu boleh meniqa kok, kan emangbukan mahram yaa.
      cuma yaa, jarang banget sii, takut keturunan nya kenapa-napa juga katanya. :D

      Hapus
  14. Mungkin si Gama kebanyakan makan micin, jadinya dia suka hilang fokus. Atau jangan jangan dia butuh AKUA ? haha rasanya baca doang tentang si gama kok jadi ikutan kesel haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bisa jadi bisa jadi. Gamma kayanya lebih butuh KUA daripada AKUA deh.

      Hapus